Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)

Limbah B3

Sadar atau tidak sadar di sekitar kita tinggal dikelilingi oleh senyawa kimia yang membuat kehidupan umat manusia lebih nyaman dan enak. Senyawa kimia diperlukan oleh dunia industri pangan, industri farmasi, industri tekstil, industri elektronik, industri prtahanan dan keamanan, industri transportasi dan keperluan rumah tangga lainnya. Seseorang duduk di rumah sudah dikelilingi oleh bahan senyawa kimia seperti TV, meja dan kursi yang beraneka warna, tembok rumah dengan beraneka warna, pembersih kaca jendela dan pintu, pembersih lantai antimikroba pathogen dll. Senyawa kimia bermanfaat bagi kehidupan manusia, tetapi limbah kimia khususnya senyawa kimia yang mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3) sangat berbahaya bagi kehidupan manusia, hewan seperti ternak dan ikan jika pengolahannya tidak benar.

Kasus limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) seperti logam berat merkuri (Hg) pernah mencemari air permukaan tanah di Jepang yang menyebabkan penyakit minamata. Selain itu, beberapa air laut di teluk Indonesia juga pernah tercemar oleh logam berat termasuk merkuri, begitu juga di air permukaan tanah di dekat air terjun niagara USA yang disebut kasus “love canal” juga pernah tercemar oleh limbah B3. Kasus lainnya yaitu susu sapi yang tercemar oleh limbah B3 seperti dikhloro difenil trikhloroetana (DDT) akibat dari rumput yang merupakan sumber makanan untuk sapi tercemar oleh DDT.

Artikel berikut ini akan dibahas secara diteil mengenai limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang merupakan limbah yang sangat merugikan dan berdampak buruk bagi makhluk hidup seperti manusia dan hewan. Menurut Bapedal (Badan Pengendalian Dampak Lingkungan) (1995), limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) adalah setiap bahan sisa (limbah) suatu kegiatan proses produksi yang mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3) karena sifat toksik (toxicity), mudah terbakar (flammability), mudah bereaksi (reactivity) dan korosif (corrosivity) serta konsentrasi atau jumlahnya yang baik secara langsung maupun tidak langsung dapat merusak, mencemarkan lingkungan, atau membahayakan kesehatan manusia.

Limbah yang dihasilkan dari kegiatan industri kebanyakan tergolong ke dalam jenis limbah B3. Sehingga sebelum dilakukan pembuangan harus melalui pengolahan khusus dan penetralan agar pada saat dibuang, aman bagi lingkungan. Industri yang sangat berpotensi menghasilkan limbah B3 yaitu industri kimia anorganik, industri kimia organik, industri pemurnian minyak bumi, industri besi dan baja, industri penyamakan kulit, industri cat dan pelapis, industri electroplating serta industri rumah sakit yang menghasilkan limbah infeksius.

Berbagai produk dapat menjadi limbah B3. Adapun produk-produk yang dapat menjadi limbah B3 diantaranya sebagai berikut:

  • Produk Automotif, contohnya: bahan bakar, oli kendaraan, aki, dan pembersih kendaraan
  • Produk untuk pemeliharaan rumah, contohnya: cat, pewarna, pengencer cat
  • Pestisida, contohnya: insektisida, racun tikus dan kamper
  • Pembersih rumah, contohnya: pembersih lantai, pemutih, pengkilap oven
  • Produk lainnya, contohnya: baterai, kosmetik, dan pemoles sepatu

Besarnya dampak dan kerugian akibat dari pencemaran limbah B3, maka limbah B3 harus diproses secara tepat dan benar menurut prosedur dan peraturan limbah B3. Limbah B3 perlu diketahui dari mana sumbernya, apa jenis dan konsentrasi limbah serta bagaimana metode penanganan limbah B3 tersebut. Apabila limbah B3 tidak dikelola dengan baik, maka sumber limbah B3 akan mencemari air permukaan tanah yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan air minum dan juga kehidupan ikan serta tanaman pangan akan terganggu. Penanganan dan manajemen limbah B3 pada setiap tahap dalam kegiatan industri merupakan upaya yang tepat untuk mencegah pencemaran terjadi.

 

 

 

Sumber:

Firmansyah R, Mawardi AH, Riandi MU. 2009. Mudah dan Aktif Belajar Biologi 1. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Suharto. 2011. Limbah Kimia dalam Pencemaran Udara dan Air. Yogyakarta: Andi Yogyakarta.

Comments are closed.