Sumber Pencemaran Lingkungan

sumber pencemaran lingkungan
Sumber: http://www.nature.nps.gov/air/AQBasics/sources.cfm

Pencemaran lingkungan dapat berasal dari berbagai sumber. Sumber pencemaran lingkungan dapat berasal dari aktivitas atau proses alam dan kegiatan manusia. Pada artikel ini akan dijelaskan secara rinci sumber pencemaran lingkungan.

A. Aktivitas atau Proses Alam

Lingkungan dalam suatu ekosistem dapat mengalami perubahan sebagian atau menyeluruh. Biasanya perubahan total terjadi akibat bencana alam, seperti banjir, lahar panas atau lahar dingin, letusan gunung berapi yang mengeluarkan partikel-partikel debu yang dapat mencemari udara, gempa, gelombang tsunami, angin topan dan lain-lain.

Terjadinya kerusakan atau perubahan yang diakibatkan oleh faktor alam dapat merusak habis semua komunitas yang ada di lingkungan tersebut. Komunitas itu akan muncul kembali (suksesi) yang membutuhkan waktu cukup lama, bahkan sampai ratusan tahun, contohnya suksesi pada Gunung Krakatau akibat letusan dahsyat yang terjadi lebih dari 150 tahun yang lalu. Meskipun alam menjadi sumber pencemar tetapi relatif jarang terjadi dan umumnya berdampak lokal dan sesaat.

B. Kegiatan Manusia

Pencemaran lingkungan yang utama berasal dari kegiatan manusia seperti kegiatan rumah tangga dan perorangan, industri, pertanian dan transportasi. Pencemaran tersebut berlangsung terus menerus dan dampaknya juga terus dirasakan, bahkan beberapa diantaranya berdampak luas atau global. Faktor-faktor penyebab terjadinya pencemaran lingkungan sebagai hasil samping perbuatan manusia meliputi: faktor Industrialisasi, faktor urbanisasi, faktor, faktor cara hidup, kepadatan penduduk dan faktor perkembangan ekonomi. Faktor-faktor di atas saling mempengaruhi secara kompleks. Apabila salah satu faktor terjadi, maka faktor lainnya dapat terjadi, dengan demikian terjadinya pencemaran lingkungan tidak dapat dihindari. Contoh masing-masing faktor tersebut sebagai berikut:

a. Faktor industrialisasi
• Pertambangan, transportasi, penyulingan dan pengolahan bahan hingga menghasilkan barang yang dapat digunakan
• Pertambangan, transportasi, penyulingan dan penggunaan bahan bakar untuk menghasilkan energi
• Sisa-sisa buangan yang dihasilkan sebagai hasil sampingan selama proses-proses di atas

b. Faktor urbanisasi
• Pembukaan hutan untuk perkampungan, industri dan sistem transportasi
• Penimbunan atau menumpuknya sisa-sisa buangan/sampah dan hasil samping selama proses-proses di atas

c. Perkembangan/pertumbuhan penduduk yang pesat
• Meningkatnya kebutuhan tempat tinggal/perumahan
• Meningkatnya kebutuhan pangan dan kebutuhan energi
• Meningkatnya kebutuhan barang-barang konsumsi dan bahan-bahan untuk hidup

d. Faktor cara hidup
• Penggunaan barang kebutuhan secara berlebihan sehingga terbuang percuma
• Tuntutan akan kemewahan
• Pemborosan energi

e. Faktor perkembangan ekonomi
• Meningkatnya penggunaan bahan sumber, misal BBM, hasil hutan
• Meningkatnya sisa-sisa buangan sebagai hasil sampingan produksi barang-barang kepentingan dalam pabrik dan meningkatnya bahan pencemar

Tabel 1 Aktivitas manusia dan hasil samping yang ditimbulkan

No.

Jenis aktivitas

Hasil samping yang ditimbulkan

1.

Rumah tangga

Pembuangan kotoran, air kotoran

Sampah

Pencemaran udara

Kebutuhan tempat tinggal, dan lain-lain

2.

Transportasi

Pencemaran Udara

Pencemaran Air

Pencemaran Suara

Kecelakaan

Kebutuhan tanah untuk jalan, dan lainlain

3.

Industri dan Pabrik

Pencemaran Udara

Pencemaran Air

Pencemaran tanah

Sampah/sisa-sisa sebagai buangan

Pencemaran panas

Suara/kebisingan

Kebutuhan tanah, dan lain

4.

Pertambangan

Pencemaran udara karena demu

Pencemaran air

Sampah/sisa-sisa sebagai buangan

Kebutuhan tanah, dan lain-lain

5.

Pertanian

Pencemaran Air

Pencemaran tanah

Buagan kotoran

Kebutuhan tanah, dan lain-lain

1. Pencemaran lingkungan akibat kegiatan rumah tangga dan perorangan

Kegiatan rumah tangga biasanya terdiri atas kegiatan memasak, mencuci dan buang air. Selain itu, dalam rumah tangga juga terdapat kegiatan konsumsi, baik bahan organik maupun anorganik yang sisanya dibuang ke lingkungan. Kegiatan-kegiatan tersebut menghasilkan limbah dalam berbagai bentuk diantaranya bentuk padat maupun cair dan bentuk organik maupun anorganik.
Kegiatan memasak menghasilkan limbah organik dan anorganik. Limbah organik berasal dari sisa sayuran dan makanan lainnya yang tidak termakan. Sampah atau limbah ini mudah hancur dan bisa dimanfaatkan untuk keperluan lain seperti pakan ikan dan pembuatan kompos. Limbah anorganik biasanya berupa plastik dan kaleng yang berasal dari pembungkus makanan. Limbah ini relatif sulit untuk dihancurkan walaupun ditimbun.

Kegiatan rumah tangga juga menghasilkan limbah dari kegiatan mencuci berupa sabun dan detergen serta bahan pembersih lainnya (misanya pembersih lantai). Detergen yang dibuang ke lingkungan perairan (selokan, sungai, kolam, danau) akan mengganggu kehidupan yang ada dalam air diantaranya:

  • Larutan sabun akan menaikkan pH atau keasaman air sehingga dapat mengganggu kehidupan organisme dalam air
  • Bahan antiseptik yang ditambahkan ke dalam sabun/detergen dapat mengganggu atau mematikan mikroorganisme normal dalam air
  • Ada bahan sabun dan detergen yang tidak diurai oleh mikroorganisme sehingga dapat merusak lingkungan. Meskipun demikian, saat ini mulai banyak sabun dan detergen yang dapat dipecah atau diurai oleh mikroorganisme

Kegiatan rumah tangga lainnya berupa buang air atau tinja dapat mencemari air sungai dan air tanah dengan berkembangnya bakteri Escherichia coli (pada tinja). Bakteri ini dapat mengakibatkan gejala diare.

2. Pencemaran lingkungan dari kegiatan industri

Pada zaman dahulu jumlah manusia masih sedikit dan kebutuhan mereka masih terbatas berupa makanan, pakaian sederhana dan tempat tinggal yang sederhana. Saat ini jumlah manusia semakin banyak dan kebutuhannya juga semakin beragam. Makanan yang mereka makanan semakin beragam jenisnya, begitu juga dengan pakaian dan rumah. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut banyak industri dibangun dan semakin banyak pula sumber daya alam yang diambil dari alam.

Kondisi tersebut membawa dampak terhadap lingkungan berupa munculnya sampah atau limbah yang jumlahnya semakin banyak dan bervariasi terutama limbah anorganik yang sulit untuk diurai oleh mikroorganisme. Hal ini terjadi karena industri pada dasarnya adalah usaha untuk mengubah atau mengolah bahan mentah menjadi bahan jadi. Setiap pengubah tersebut pasti menghasilkan residu atau sisa berupa sampah atau limbah. Berdasarkan hukum fisika yang disebut dengan hukum termodinamika II yang berbunyi “setiap pemakaian suatu bentuk atau unit energi tidak pernah tercapai efisiensi 100%. Dalam suatu proses tertentu perubahan suatu bentuk energi menjadi energi lain selalu menghasilkan sisa yang tidak terpakai pada proses itu atau disebut “entropy”.

Pada dasarnya bahan mentah yang diolah dalam proses industri juga merupak bentuk energi karena itu, setiap pengubahan bahan mentah menjadi barang jadi maupun setengah jadi pasti menghasilkan sisa atau residu berupa sampah atau limbah yang tidak termanfaatkan dalam proses itu seperti yang disebutkan oleh hukum termodinamika II. Meskipun sampah adalah sisa yang tidak dipakai oleh industri yang menghasilkannya tetapi sampah tersebut juga adalah energi yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan lain. Sebagai contoh, pabrik tahu menghasilkan limbah berupa ampas tahu. Ampas tahu dapat dimanfaatkan untuk kepentingan lain seperti pakan ikan dan ternak.

Industri terdiri dari berbagai jenis dengan limbah yang juga beragam. Sebagian limbah tersebut berupa limbah padat (sampah) dan sebagian lainnya berupa limbah cair serta limbah gas. Limbah padat mencemari lingkungan perairan dan daratan, sedangkan limbah gas mencemari udara. Diantara limbah tersebut merupakan limbah berbahaya dan beracun (B3).

3. Pencemaran lingkungan dari kegiatan pertanian

Kegiatan pertanian dimulai dari pembukaan lahan hutan, pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan, panen dan kegiatan setelah panen. Setiap kegiatan tersebut menghasilkan berbagai limbah yang dibuang ke lingkungan.

Pada saat pembukaan lahan untuk pertanian dilakukan, biasanya didatangkan peralatan berat, sehingga menimbulkan kebisingan. Lahan yang telah dibuka menimbulkan pengikisan atau erosi yang partikel-partikelnya mencemari sungai dan danau. Partikel-partikel hasil erosi tersebut masuk ke dalam sungai sehingga warna sungai tampak kecoklatan. Banyaknya partikel dalam sungai mengakibatkan berkurangnya oksigen dalam sungai dan terbatasnya sinar matahari yang menembus masuk ke dalam sungai. Hal ini dapat mengakibatkan tergangguanya pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup yang ada di dalamnya.

Kegiatan pemeliharaan pada saat tanaman telah ditanam biasanya menggunakan pupuk dan pestisida. Penggunaan pupuk yang berlebihan tidak akan semuanya dipakai oleh tanaman sasaran, melainkan akan hanyut ke perairan sekitarnya. Pupuk yang terbuang tersebut akan menyuburkan wilayah perairan sehingga mempercepat pertumbuhan tanaman air seperti enceng gondok, kayambang dan pandan air. Apabila hal ini terus berlangsung maka suangai atau danau akan tertutup oleh tanaman tersebut sehingga terjadi pendangkalan.

Penggunaan pestisida juga dapat mencemari lingkungan jika digunakan secara berlebihan. Organisme yang mati tidak hanya hama yang dijadikan sasaran tetapi juga organisme atau makhluk hidup lainnya yang bukan sasaran. Bahkan yang lebih berbahaya adalah jika pestisida diserap oleh akar tanaman dan masuk dalam buah yang akan dimakan. Pestisida juga dapat melekat atau masuk melalui daun atau buah sehingga dapat membahayakan kesehatan manusia.

Pada saat panen, pencemaran juga dapat terjadi saat sisa tanaman yang tidak terpakai dibuang ke lingkungan. Misalnya, ketika panen padi maka jerami dapat menjadi sampah yang mencemari lingkungan jika tidak dimanfaatkan untuk keperluan lain.

Setelah proses panen dilakukan, pencemaran juga dapat terjadi ketika pengolahan hasil panen menghasilkan limbah. Sebagai contoh, proses penggilingan pada menghasilkan limbah berupa sekam. Proses pengalengan hasil panen menjadi makanan kaleng juga dapat menghasilkan limbah berupa biji atau kulit serta bagian lain yang tidak dipakai.

 

 

 

 

Sumber:

Firmansyah R, Mawardi AH, Riandi MU. 2009. Mudah dan Aktif Belajar Biologi 1. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Kistinnah I, Lestari ES. 2006. Biologi Makhluk Hidup dan Lingkungannya. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

 

 

 

Comments are closed.